Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengejawentahkan Dakwah Profetik di Era Globalisasi




            Oleh : Zulfikar. Memasuki setengah abad, IMM yang usianya 56 tahun ini, siap dalam segala kehadirannya untuk menyikapi problem keummatan yang terjadi di negeri ini. Tantangan IMM yang internal bahkan eksternal. Menurut saya dalam usia IMM yang sudah berada di 56 tahun bahwa IMM dalam berjuang di abad 21 ini menghadapi kompleksitas keadaan yang ada Percaturannya di segala aspek kehidupan mulai menjadi topik yang tak pernah absen dalam perjalanan kehidupan mahasiswa. Dinamika sosial yang semakin komplek di masyarakat seakan merengek kepada dunia dimana, masyarakat harus dihadapkan dengan konflik internal yang tak kunjung usai. Kondisi ekonomi yang mengalami kejomplangan yang teramat jauh telah merusak sendi kemakmuran masyarakat. Konstelasi politik yang berderu semakin panas bagaikan sebuah perlombaan pacuan kuda, dimana sikut menyikut antara lawan politik yang tajam bahkan sampai pada kontak fisik terjadi di bumi Indonesia ini.
            Pergerakan mahasiswa identik dengan sebuah corak berpikirnya masing-masing. Setiap organisasi pergerakan pasti memiliki landasan-landasan ideal sebagai penuntun dalam bersikap maupun bertindak. Dalam hal ini, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan salah satu eksponen Muhammadiyah yang bergerak di ranah kemahasiswaan. Sebagai organisasi otonom atau under bow-nya Muhammadiyah, IMM bergerak berdasar pada landasan-landasan filosofis yang disematkan dengan Ideologi Muhammadiyah. Sehingga IMM sebagai organisasi mahasiswa Islam turut berjuang sebagaimana apa yang digariskan oleh Muhammadiyah.
            Di era kini semakin berkembangnya zaman, IMM perlu menyesuaikan gerakan juga. IMM yang sudah sampai 56 tahun berkiprah ini, menjadikan gerakan mahasiswa Islam ini semakin produktif dalam rangka mewujudkan misi Islam, rahmat bagi seluruh alam.
           

…………
            Perkembangan era digital dewasa ini ditandai dengan semakin masifnya penetrasi media sosial dalam berbagai aspek kehidupan ekonomi, politik, budaya dan pertahanan keamanan, fenomena ini merupakan konsekuensi perubahan pola komunikasi, dari cara-cara dan media konvensional menuju digitalisasi komunikasi dengan menggunakan berbagai kanal media sosial kekinian[1]
            Perkembangan era digital dengan masifnya penggunaan internet sebagai media baru, membawa konsekuensi pergeseran karakter khalayak menjadi audience, khalayak tidak lagi obyek pasif, namun dapat berperan menjadi produsen informasi, masyarakat sebagai khalayak tidak lagi pada posisi obyek yang dideterminasi media massa arus utama, tetapi lebih jauh dapat berperan memproduksi berita dan membentuk opini publik via platform media sosial.[2]
Menilik dari kontektasi yang diatas maka dapat kita Tarik bahwa perjalan dakwah trilogi IMM dapat sangat dimanfaatkan dalam era globalisasi ini, bagaimana caranya kita dakwah dalam media sosial untuk mengejawentahkan peradaban globalisasi dalam media sosial.
Seperti yang kita rasakan, media sosial Instagram merupakan media yang banyak digandrungi oleh masyarakat banyak untuk menunjkakan eksistensinya di dunia maya. Instagram merupakan sebuah aplikasi sosial yang popular di kalangan pengguna smartphone. Nama Instagram berasal dari kata Insta yang asalnya dari kata Instan dan gram dari kata telegram. Jadi Instagram merupakan gabungan dari kata Instan-Telegram, dan dapat diartikan sebagai aplikasi yang untuk mengirimkan foto, mengedit foto, dan berbagi (share) ke jejaring sosial yang lainnya. Instagram punya dua pendiri yaitu Kevin Systrom yang telah dikenal sebagai orang yang telah berkecimpung di dunia App (Aplikasi). Pendiri ke-2 yakni MikeKrieger sebagai ruh App-nya. Perkembangan Instagram sangat pesat, dibuktikan dengan kepopuleran Instagram yang mencapai 150juta pengguna[3]
Melalui media sosial, berbagai informasi membanjiri ruang publik media sosial, arus informasi yang deras tanpa batas tersebut, ibarat sekeping mata uang logam yang memiliki dua sisi yang berbeda, media sosial satu sisi dapat bersifat positip apabila dimanfaatkan secara benar,  untuk mengedukasi masyarakat dan mengoptimalkan manfaat praktis media sosial, bagi peningkatan pembangunan bangsa.
Frasa post-truth ini awalnya dikenal di ranah politik saat kontes politik memperebutkan kursi parlemen dan/atau tujuan politik lain sehingga istilah ini disebut post-truth politics. Istilah post-truth pertama kali diperkenalkan Steve Tesich, dramawan keturunan Amerika-Serbia. Tesich melalui esainya pada harian The Nation (1992) menunjukkan kerisauan yang mendalam terhadap fenomena post-truth, dengan maraknya upaya memainkan opini publik dengan mengesampingkan dan bahkan mendegradasi fakta dan data informasi yang objektif. Secara sederhana, post-truth dapat diartikan bahwa masyarakat lebih mencari pembenaran dari pada kebenaran.
Dalam perkembangannya istilah post-truth menjadi semakin populer akhir-akhir ini, ketika para penyunting Kamus Oxford menjadikannya sebagai word of the year tahun 2016. Post-truth menunjukkan suatu keadaan di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik bila dibandingkan dengan emosi dan keyakinan pribadi.
Era post-truth dapat disebut sebagai pergeseran sosial spesifik yang melibatkan media arus utama dan para pembuat opini. Fakta-fakta bersaing dengan hoax dan kebohongan untuk di­per­caya publik. Media main­stream yang dulu dianggap salah satu sumber kebenaran harus menerima kenyataan semakin tipisnya pembatas antara kebenaran dan kebohongan, kejujuran dan penipuan, fiksi dan nonfiksi. Secara sederhana, post-truth dapat diartikan bahwa masyarakat lebih mencari pembenaran dari pada kebenaran.[4]
Virtual berasal dari kata visual, yang artinya adalah proses pengubahan suatu konsep dan pengungkapan suatu gagasan atau perasaan dengan menggunakan bentuk gambar, tulisan, grafik dan lain-lain agar dapat dilihat dengan indra penglihatan (mata) untuk disajikan.[5] Tubb dan Moss sebagaimana dikutip oleh Deddy Mulyana mendefinisikan Virtual sebagai proses komunikasi tanpa wujud, namun secara luas merupakan wadah komunikasi ruang maya dalam internet.[6]
Oleh karena ituu dapat berdakwah merupakan kewajiban setiap manusia, setiap orang dalam berbagai profesi bisa melaksanakan dakwah. Sebab berdakwah dapat dilakukan dalam multidimensi kehidupan.
IMM yang harus mampu menakar kemajuan zaman maka dia harus mampu menaklukannya dengan mengembangan dakwah di era globalisasi melalui media sosial dalam era post truth
Instruktur dan seluruh kader ikatan wajib menyelami dunia baru yang akan kita singgahi ini untuk mengetahui khazanah sumber pengetahuan dakwah. Menurut penulis, gerakan IMM era milenial merupakan gerakan yang sudah mengoptimalkan penggunaan teknologi sebagai alat penunjang dalam kegiatan/aktivitas, seperti penggunaan media sosial dalam mensyiarkan ajaran-ajaran islam misalnya dengan melakukan dakwah virtual.
Untuk menyentuh tataran garis terendah ikatan mahasiswa muhammadiyah terus berkontemplasi dengan dunia TRILOGI IMM.
Menyentuh sekmen dari keagamaan, masyarakat dan mahasiswa kita harus mengetahui dimana era tranformasi teknologi telah berada pada sektor kebutuhan manusia.


KESIMPULAN
Rasulullah SAW bersabda yang artinya: Berbicaralah kepada manusia menurut kadar kecerdasan mereka. (HR.Muslim)[7].

Berdasarkan pada makna dan urgensi dakwah, serta kenyataan dakwah yang terjadi di lapangan, maka di dalam Al-Quran al-Karim telah meletakkan dasar-dasar metode dakwah dalam sebuah surat an-Nahl ayat 125 yang berbunyi:
Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.[8]
Dari ayat tersebut dapat diambil pemahaman bahwa metode dakwah meliputi: hikmah, mau’idhah hasanah, dan diskusi dengan cara yang baik. Menurut Imam al-Syaukani, hikmah adalah ucapan-ucapan yang tepat dan benar, atau menurut penafsiran hikmah adalah argumen-argumen yang kuat dan meyakinkan. Sedangkan mau’idhah hasanah adalah ucapan yang berisi nasihat-nasihat yang baik dimana ia dapat bermanfaat bagi orang yang mendengarkannya, atau menurut penafsiran, mau’idhah hasanah adalah argument-argumen yang memuaskan sehingga pihak yang mendengarkan dapat membenarkan apa yang disampaikan oleh pembawa argumen itu. Sedangkan diskusi dengan cara yang baik adalah berdiskusi dengan cara yang paling baik dari cara-cara berdiskusi yang ada.[9]
Bagaimana penggunaan akun media sosial yang dimiliki sebagai ladang untuk mengajak dan meningatkan kebaikan. Jelas sebagai umat muslim, seperti yang termaktub dalam Al Qur’an, Surat Al Imran ayat 110 yang berbunyi: kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka: di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (Qs. Ali Imran: 110). Artinya kita sebagai umat muslim harus melakukan amal maruf nahi munkar yaitu menjalankan yang baik dan mencegah pada yang munkar, dengan mensyiarkan ajaran-ajaran islam dalam bentuk dakwah virtual, dalam konteks Muhammadiyah ayat ini pun menjadi landasan dalam berdirinya Muhammadiyah yang termasuk surat Al-maun dan Ali-Imran ayat 104.
Hemat penulis, hidup di era milenial seperti sekarang membuat kita bisa dengan mudah melakukan dakwah, dakwah dalam artian ini bukan lagi dakwah yang hanya melalui mimbarmimbar masjid saja, yang kini terkesan monoton di mata masyarakat era milenial. Monoton disini bukan berarti dakwah tersebut terkesan membosankan atau terdengar kuno, namun metode dakwah ini dinilai kurang memberikan efek yang besar bagi para mad’u (orang yang menerima pesan). Dengan adanya tekhnologi yang terus berkembang, metode dakwah di rasa perlu untuk melakukan terobosan-terobosan baru, sekaligus untuk menjawab tantangan zaman yang kian pragmatis (serba instan) dan hedonis, dengan melakukan terobosan baru ide-ide yang lebih kreatif dan unik agar dapat membuat masyarakat di era milenial ini merasa tertarik, sehingga khalayak yang menonton dapat menyerap dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. 
Sebagai kader IMM seharunya kita membiasakan berbagi konten dakwah beberapa hari sekali sebagai bentuk kita mensyiarkan ajaran Islam yang mungkin belum di ketahui oleh followers kita atau mungkin mereka sebenarnya tahu, namun masih seringkali lalai, padahal konten kita ini bisa sebagai pengingat. Penggunaan media sosial di setiap level kepemimpinan bisa dilakukan dimulai dari komisariat seharusnya bisa lebih optimal lagi melakukan syiar ini dengan mengupload dan mengemas dengan baik konten dakwah beberapa hari sekali secara kontinyu, komitmen, dan konsisten. Dalam hal ini walaupun belum terlalu optimal, penyebaran dakwah virtual di sebagian komisariat di Jakarta Selatan sudah cukup menarik dalam pengemasannya, bagaimana dakwah itu dapat kita sampaikan secara singkat namun penggunaan bahasa yang kita pakai dapat menjadi pengingat orang yang membacanya. Penggunaan big data dalam gerakan IMM era milenial sebenarnya sudah kita lakukan sedikit demi sedikit, dengan penggunaan media sosial sebagai ladang berdakwah.

Penulis : Zulfikar
Menteri Ekowir BEM UHAMKA | Kabid Ekowir PC IMM Jaksel 2018-2019

Editor : Zakiyah Hatun


[2] IBIN
[3] (digilib.uinsby.ac.id/15072/5/Bab%202.pdf).
[5] Tim Bahasa Departemen Pendidikan Nasional., Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta, Balai Pustaka, 2005), 821
[6] Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi: Satu Pengantar (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005), 59
[8] QS. An Nahl (16): 125
[9] Ali Mustafa Yaqub, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, (Pejaten Barat: Pustaka Firdaus, 2000), 121-122.

Posting Komentar untuk "Mengejawentahkan Dakwah Profetik di Era Globalisasi"