Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tinta Emas Kader Muhammadiyah



Grassroot
Hari ini banyak terjadi kader kader IMM pragmatis yang kehilangan jati dirinya, dalam hal ini kader kader ikatan seperti terbius dengan segudang ragam inovasi hanya mengikuti budaya dan terjebak dalam arus organisasi yang didorong dari kata senior.
Berbincang dengan adik-adikku di IMM membuat selintingan kata yang ia ibaratkan ASS (arahan siap senior atau asal senior senang). Itu membuat terbunuhnya inovasi ragam kemandirian IMM, sikap dan sifat yang menuhankan senior diatas segalanya, diatas dosen, diatas rektorat, bahkan sampai diatas-NYA.
Maka hasilnya kader terperosok, terpasung dan terpenjara dalam budaya praktis/instan. Di mana gerakan tidak dimulai dari jati diri sendiri atau dari buah pikiran jiwa, namun atas dorongan dari kekuatan-kekuatan lainnya. Inilah alasannya pula mengapa IMM sering kali membuat kegiatan yang terkesan kaku, mewah, pongah dan atau congkak.
Untuk mewujudkan hal itu, maka kader-kader IMM kerap kali mempermainkan proposal untuk meraup keuntungan sekelompok penikmat keuntungan, dan disanalah dimulai dari hilangnya arah gerak ikatan
Buku-buku tercetak dan sangat rapih hingga berdebu pada perpustakaan ikatan, kehilangan arah dalam langkah karena kita masih tidak pernah mengenal siapa kita? dan dimana kita? lantas mau apa kita?
Banyak kader hanya menjalankan program kerja yang telah diwarisi oleh angkatan sebelumnya yang ntah apakah masih relevan dengan situasi kondisi hari ini, malasnya budaya ikatan dalam berliterasi membuat kita enggan melihat dan menengok ke jendala luar sana, kita sangat asik berdiskusi dengan senior dan menuruti atau hanya sekedar memuaskan nafsu senior dengan cara menjalankan program kerja atau mewujudkan impian senior dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Dalam proses pengkaderan yaitu Darul Arqom seharusnya dapat membentuk jiwa kader yang religious, intelektual, humanis, bersikap anggun dalam moral dan selalu tertib dalam Ibadah tertib akademik dan tertib organisasi.


Menilik dari yang seharusnya diemban dari seorang jiwa instruktur diharuskan dapat dan mampu mencetak kader seperti itu, tapi ketika memang instrukturnya enggan dalam membaca maka terjerat dan terjerambablah kader kader menjadi instan dan pragmatis, mengikuti budaya, mengikuti arahan dan tidak punya jiwa-jiwa dalam perbaikan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang kader ketahui hanyalah IMM itu eksklusif dalam PTM itu sendiri.
Menyoal dari Membentuk pola pengkaderan dengan baik dan membuka cakrawala kader dalam berfastbiqul khairot itu sangatlah penting, untuk menumpas dan membuka pasung pada ikatan yang terjebak dan terpenjara dalam diri sendiri merasa eklusif dalam diri dan merasa benar akan membuat kita jatuh dan terperosok ke palung yang terdalam, membuat kader - kader buta akan permasalahan dan persoalan-persoalan yang dihadapi IMM hari ini, menjadi mayat-mayat yang berjalan ia hidup tapi tidak seperti hidup dan memiliki jiwa kehidupan untuk menghidupi
Banyak yang terpangkas yang gugur dan yang lahir, yang menyerah dan tetap berjuang, dalam diri ikatan ituu sendiri, banyak tokoh tokoh founding father kita seperti Mohammad Djazman Al-Kindi, A. Rosyad Sholeh, Moh. Amien Rais, Soedibjo Markoes, Zainuddin Sialla, Sofyan Tanjung, dan kawan-kawan adalah sosok yang kerap menampilkan wajah kepemimpinan Islam (profetik) di massa itu. Yang layak kita teladani sifat dan sikap baiknya, tidak hanya pandai dalam beretorika tapi banyak kader ikatan dikala itu yang hafidz qur’an, dan tidak meninggalkan praktek ibadah ritualnya.
Baca baca baca bacalah dengan menyebut nama Allah SWT.
Kader ikatan hari ini sangat minim dalam berliterasi, malas membaca membuat kita taat tunduk dan patuh terhadap senior dan hanya mengikuti arahan atau budaya IMM itu sendiri tidak memiliki idealisme dan indenpendensi kader ikatan.
Jikalau kita mengambil contoh dalam sosok figure ayahanda kita KH. Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis dalam berdakwah penuh dinamika, dan ketegasan dari tindakan Dahlan tidak lepas dari bahan bacaan KH. Ahmad Dahlan itu sendiri,bagaimana caranya kita melangkah dan hidup menghidupi jikalau kita mati dalam arti miskin khazanah pengetahuan kurangnya cakrawala bacaan dan tidak adanya inovasi yang terjerembab dalam diri kader itu sendiri maka harus dimulai pola belajar membaca kader dari detik ini, sadarlah kader ikatan untuk apa kita diciptakan untuk apa kita dilahirkan dan kemana tempat kita kembali?

Dan temukan itu untuk melangkah kedepan dengan baca baca baca. Baca ah dengan menyebut nama Allah SWT! Karena dari membaca kita dapat memiliki imajinasi yang sangat kuat untuk mewujudkan impian dengan data yang pasti dengan membaca



Kesimpulan
Berpegang teguhlah pada tali dari radja yang sesungguhnya
Dan sadarilah karena aku ini siapa???



Penulis : Zulfikar
Menteri Ekowir BEM UHAMKA | Kabid Ekowir PC IMM Jaksel 2018-2019

Editor : Zakiyah

Posting Komentar untuk "Tinta Emas Kader Muhammadiyah"